(maap ya...)
Sekarang gw kerja di RS Ibu dan Anak sebagai dokter jaga ruangan/ugd tetap. Dan jadwal kerja gw selalu pagi sampai sore dari senin sampai sabtu. Alhamdulillah kayak orang kantoran.
Tugasnya dokter jaga ruangan adalah penyambung lidah/ keadaan antara pasien dan dokter spesialis (konsulen) yang merawat yang tidak setiap saat dapat berada di ruang perawatan (tidak selalu di tempat).
case 1:
G1P0A0 hamil 27 minggu
KPD
Hb 7,9
Dengan pembacaan darah tepi: poikilositosis, target cell, cigar cell, tear drop
Suspect thalasemia, infeksi dan toksik belum dapat disingkirkan
Konsulen SpOG gw ngasih duvadilan, dexametason 2 x 2cc iv, dan transfusi packed red cell 450cc
KU memburuk: OS sesak napas dan jantung berdebar
Dokter jaga malam (bukan gw) sarankan O2 4 lt/mnt kanul dan saran cek EKG
Konsulen SpOG anggap gak perlu EKG, karena KU setelah pemberian oksigen dan pindah ruang HCU membaik
Paginya gw periksa lagi (karena gw dokter ruangan tetap pagi)
KU: orthopnoe
Ronchi kedua paru, Gallop (+)
Konsulen SpPD sarankan stop transfusi dan perbaiki KU dengan Furosemide 1 amp dan pasang urine bag
Assessment akhir memang Dekompensatio Cordis. But why and how?
Diskusi:case 2:
Why. Mengapa bisa dekompensatio cordis? ada 2 DD yang paling memungkinkan: yang pertama, ibu tersebut memang sudah memiliki kelainan jantung-paru sebelumnya yang tidak terdeteksi.
gw bilang tidak terdeteksi karena memang KU sebelum hamil/ masuk dari pemeriksaan fisik memang tidak ditemukan kelainan. (entah ya kalo konsulen gw miss something)
kemungkinan kedua, kelainan didapatkan karena kehamilannyanya...tapi hal ini sangat jarang terjadi.
how. Pemeberian duvadilan dan transfusi memang sangat memberatkan kondisi ibu. namun hal ini tidak bisa disalahkan karena keadaan dekompensatio tidak didapatkan sebelumnya.
(duvadilan bersifat beta adrenergik dan transfusi memperberat kerja jantung).
kelanjutannya gimana? well karena selanjutnya dirujuk ke RS yang lebih tinggi, jadi gw belum bisa kasih gambaran selanjutnya.
tapi ada beberapa skenario yang bisa diprediksi:
1. terminasi kehamilan karena kehamilan membahayakan kondisi ibu
2. tanpa terminasi, namun kondisi bayi pun tidak bisa maksimal karena dengan keadaan KPD usia 27 minggu pun maksimal dapat dipertahankan 2 minggu yang berarti ada infeksi dan usia kehamilan baru 29 minggu dimana bayi masih sangat kecil. selain itu keadaan ibu yang dekompensatio menyebabkan pasokan darah ke kandungan akan berkurang
Pasien usia 30 tahun post ekstraksi lipoma oleh gw. angkat jahitan dari pinggir tidak ada gap tidak ada pus, kemerahan sedikit.
gw sengaja tutup dengan Suprasorb-H dan Tegaderm (rapat, kedap air) seperti yang diajarkan konsulen bedah gw.
3 hari post pemasangan Suprasorb-H dan Tegaderm, pasien febris (objektifnya normal, 36,5 derajat Celcius) dan pada perban yang transparan itu timbul seperti pus.
Gw buka, ternyata luka post incisum tidak masalah, tidak ada pus, kering, dan sudah tidak kemerahan.
Lho, kenapa ya? Koq ternyata gak ada pus.
Diskusi:
yang tampak seperti pus dari luar perban ternyata adalah gelembung udara.
kemungkinan pertama udara dari proses pernapasan kulit. hal yang sama terjadi pada pasien post cesar yang ditutup dengan cara seperti ini.
kemungkinan kedua adalah udara hasil aerob kuman aerob yang masih ada di luka/ kulit.
bagaimana dengan febris?
bila kemungkinan kedua terbukti, maka febris merupakan hal pendukung. namun dari hasil objektif dimana normal, 36,5C seperti kemungkinan kedua dapat kita singkirkan. dan ujga tidak terdapat pus maupun nyeri tekan pada bekas incisum.
kemungkinan febris yang lain adalah pasien kurang tidur. yap, memang pasien mengaku kurang tidur.
case 3:
Bude gw telp kalo dia sesak napas
RPD: dia atherosklerosis arteri koroner dan pasang ring beberpa tahun lalu.
Kemarin gw periksa dia bareng NT. Bo, baru aja gw kenalin ke bude gw, bude gw komentar "oh ini NT... sering denger"
dum... da ra dum... gw seh biasa aja... ah mungkin nyokap suka cerita... dia kan emang bawwel
Tapi NT drop banget... aduh... KU NT: agak pucat
KU bude: tampak sesak, edema ekstermitas inferior
TD 110/70, N 65x/ menit tidak teratur, isi dan tengangan cukup
Gw periksa paru memang sedikit ronkhi
NT periksa jantung ternyata apeks di SIC 6 dan sedikit geser dari linea med clav sin. jadi gak terlalu besar.
tapi dari auskultasi didapatkan insufisiensi katup mitral.
Diskusi:
itu yang menyebabkan bude gw batuk dan mudah edema paru.
saran NT minum HCTnya sambil pasang urine bag, supaya bude gw gak bolak2 kamar mandi. setelah selesai, boleh lepas
saran NT juga supaya gak banyak pikiran karena kerja jantung 2x kerja normal bila stress.
Setelah periksa pamit dong...
pamit juga ama sepupu gw. "ooo NT yang praktek sama [montirmanusia] ya? makasih ya..."
KU NT: tambah pucat....
*bbrp istilah
KPD : air ketuban pecah sebelum waktunya. hal ini menyebabkan bayi akan terangsang napas spontan dan mudah terserang infeksi bila dibiarkan lama
KU : kesan pertama saat kita melihat pasien
SpOG : spesialis kebidanan dan kandungan
HCU : tempat perawatan dengan pengawasan tinggi
TD : tensi darah
N : laju nadi
O2 : oksigen
lt/mnt : liter per menit
duvadilan : obat untuk mencegah kontraksi
dexametason : obat, dalam hal ini untuk mematangkan paru janin
thalasemia : penyakit kanker darah
packed red cell : jenis transfusi yang berisi sel darah merah
decompensatio cordis : keadaan jantung bekerja keras untuk memasok darah ke otak sehingga beberapa organ lain harus dikorbankan
DD : kemungkinan diagnosis2 lain
pus : nanah
edema : bengkak




